RSS

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 14)

Al-Maushul

Al-Maushul Al-Ismi

Al-Maushul Al-Ismi ada dua macam: Nash dan Musytarak. Yang dimaksud dengan Nash adalah kata-kata yang tidak pernah digunakan oleh bangsa Arab kecuali untuk Al-Maushul. Adapun yang dimaksud dengan Musytarak adalah kata-kata yang disamping digunakan oleh bangsa Arab sebagai Al-Maushul, juga digunakan untuk yang lainnya. Read the rest of this entry »

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 17 November 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

Menolak Madzahib atau Menolak Ushul Fiqh

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang alumni tahun kemarin berkunjung ke Asrama Putra yang biasanya tidak hanya sekedar mengobati rasa kangen kepada gedung-gedung yang menjadi semacam monumen di dalam kotak memorinya, tapi juga kepada para asatidz dan terutama mantan adik kelas yang mengisi hampir seluruh waktu hidupnya selama di pesantren, dan tentu saja untuk cerita pengalaman di luar atau barangkali sharing ilmu yang sedang ia tuntut sekarang di bangku-bangku kuliah di luar sana atau bertanya kepada para asatidz tentang hal-hal pelik yang ia jumpai di kala belajarnya. Nah, alasan yang terakhir inilah yang menjadi bahan tulisan saya kali ini.

Logika Sederhana

Sesaat sebelum ia pamit pulang ke rumahnya, ia sempatkan bertemu dengan saya lalu menceritakan tentang perdebatan antara seorang dosen dan mahasiswa yang terjadi di kelasnya. Sang dosen menyatakan tidak mau menerima Madzahib karena merupakan hasil fikir manusia yang rentan mengandung kesalahan. Wallahu a’lam, saya tidak tahu apakah mata kuliah yang sedang dikaji adalah Ushul Fiqh atau Sejarah Kebudayaan Islam.

Di lain fihak, sang mahasiswa menyatakan tidak mau menggunakan Ushul Fiqh dengan alasan yang sama karena Ushul Fiqh merupakan hasil fikir manusia yang juga rentan mengandung kesalahan. Sebagai bukti ia membawakan contoh kaidah Ushul Fiqh: “Al-Ashlu Fil Amri Lil Wujuub” yang mestinya berarti “Pada asalnya perintah itu menunjukkan Wajib,” namun dalam prakteknya dapat menunjukkan sunnah yang berarti menunjukkan pula dualisme hasil yang tidak mungkin kedua-duanya bisa dipakai karena merujuk kepada dua hal yang berbeda.

Lalu harus bagaimana? Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 12 November 2011 in Tulisan Bebas

 

Khutbah Iedul Adha 1432 H

(Sejatinya Khutbah ini siap posting pada malam Ied Al-Adha, namun dikarenakan jaringan paket data IM3 yang saya gunakan agak ngeyel -karena setelah berkali-kali saya coba posting ternyata tetap tidak mampu mengupload seluruh isi khutbah ini sekaligus-, maka, terpaksalah baru bisa diupload hari ini setelah seluruh darah hewan kurban kering dan seluruh jamaah haji Indonesia undangan khusus dari Raja Abdullah As-Saud telah kembali ke tanah air. Bagi kloter jamaah haji standar Kemenag yang pulang secara bertahap… afwan, saya hanya bisa mendoakan mudah-mudahan selamat sampai di tanah air dan diganjar Allah dengan haji mabrur, bukan mabuuur)

Muqaddimah

الحمد لله، الذي شرّع على المسلمين الحج والعمرة، والصيام والتضحية، لتكون لهم علامةَ الإيمانِ والطاعة.

نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه، في كل لحظة وثانية يعطيها لنا من عنده فرصة وبركة.

ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، عياذا متلوا بالمغفرة والرحمة والتوبة والسماحة.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، خالقُ السماوات والأرض وما بينهما من البرية.

وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، خاتمُ الأنبياء والمرسلين وحامل تعب الرسالة بكل حماسة.

فالصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم لقاء رب الجنة.

أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.

وقد قال الله تعالى في القرآن الكريم: ياأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

Puji syukur hanyalah untuk Allah Ta’ala, Yang telah memberikan nikmat dan rahmat-Nya, petunjuk dan ampunan-Nya, kepada seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada.

Puji syukur hanyalah untuk Allah Ta’ala, Yang mempertemukan kaum muslimin dalam kumpulan-kumpulan jama’ah dan Yang mengundang mereka ke padang Arafah.

Puji syukur hanyalah untuk Allah Ta’ala, Yang mempersaudarakan kita dalam ikatan Aqidah suci, Aqidah Tauhid, Aqidah Ibrahim, Ismail dan Ishaq Alaihimus Salam dan Aqidah seluruh Nabi.

Shalawat serta salam, semoga tetap tercurah atas Rasulillah Muhammad bin Abdillah, yang berjuang bertaruh nyawa di medan da’wah dan jihad, demi tegaknya kalimatillah. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 12 November 2011 in Tulisan Bebas

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 13)

Al-Maushul

 

Pembentukan Mashdar Muawwal Dari لَوْ Dan Jumlah Fi’liyyah

Untuk لَوْ sebagai Al-Maushul, ia hanya bisa dihubungkan dengan Jumlah Fi’liyyah (kalimat yang diawali oleh Fi’il) dengan satu syarat yaitu: bahwa Fi’il yang digunakan dalam Jumlah Fi’liyyah tersebut adalah Fi’il Mutasharrif (kata kerja yang bisa diderivasi) dan bukan Fi’il Amr (kata kerja perintah).

Contoh: Firman Allah:

وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَ

(Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).) Al-Qalam 9.

Pada ayat di atas terdapat satu Jumlah Fi’liyyah setelah Harf لَوْ yaitu kalimat تُدْهِنُ, sebab kalimat ini, meskipun pendek, sebenarnya sudah mengandung 2 unsur utama Jumlah Fi’liyyah, yaitu Fi’il (kata kerja) dan Fa’il (pelaku kata kerja). Dalam hal ini, yang menjadi Fi’il-nya adalah kata تُدْهِنُ yang artinya berpuasa, sedangkan Fa’il-nya adalah dhamir atau kata ganti أَنْتَ yang menjelaskan siapa yang berpuasa, yaitu “kamu.”

Pada ayat di atas, kata لَوْ berfungsi sebagai Al-Maushul sedangkan kalimat تُدْهِنُ berfungsi sebagai shilah-nya.

Untuk membuktikan bahwa لَوْ benar-benar berfungsi sebagai Al-Maushul, maka kita bisa men-ta’wil atau mengungkapkan ayat ini dalam bentuk lain yaitu dengan mengganti لَوْ تُدْهِنُ dengan satu Mashdar (kata dasar) yang diambil dari Shilah-nya (تُدْهِنُ) yaitu إِدْهَانٌ (Bersikap lunak) sehingga kalimat dalam ayat tersebut bisa diungkapkan dengan:

وَدُّوْا إِدْهَانَكَ فَيُدْهِنُوْنَ

(Maka mereka menginginkan sikap lunakmu lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).) Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 3 November 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 12)

Al-Maushul

 

Pembentukan Mashdar Muawwal Dari أَنْ Dan Jumlah Fi’liyyah

Untuk أَنْ sebagai Al-Maushul, ia hanya bisa dihubungkan dengan Jumlah Fi’liyyah (kalimat yang diawali oleh Fi’il). Jumlah Fi’liyyah yang dimaksud ada tiga macam, yaitu:

  1. Mengandung Fi’il Mudhari’ (sekarang dan akan datang).
  2. Mengandung Fi’il Madhi (lampau).
  3. Mengandung Fi’il Amr (perintah).

Ahli bahasa sepakat menggunakan yang pertama sebagai Mashdar Muawwal, namun untuk yang kedua dan ketiga, terjadi perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya keduanya dijadikan Mashdar Muawwal. Dan dalam pembahasan berikut, hanya akan dibahas pendapat yang membolehkannya. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 27 Oktober 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 11)

Al-Maushul

 

Pembentukan Mashdar Muawwal Dari أَنَّ Dan Jumlah Ismiyyah

Dalam proses pembentukan Mashdar Muawwal yang di-ta’wil-kan dari أَنَّ dan Jumlah Ismiyyah sebagai Shilah-nya, perlu dilihat apa yang menjadi Khabar (kata atau kalimat yang menjadi bagian inti dari Jumlah Ismiyyah yang berfungsi untuk menyempurnakan makna) dari Jumlah Ismiyyah tersebut.

Dengan mengetahui jenis-jenis Khabar ini, barulah kita bisa tentukan bentuk Mashdar yang dibutuhkan. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 18 Oktober 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

Asyiknya mentertawakan orang…

Siang ini, tepat pukul 13.40 adalah giliran saya mengajar Nahwu di kelas aliyah putra. Menyampaikan pelajaran yang dianggap paling tidak menarik dan paling rumit oleh kebanyakan santri, meskipun saya berkali-kali menyampaikan kepada para santri bahwa Nahwu itu “as simple as you tweak your cellphone” jika memulainya dengan cara yang tepat.

Anyway, seperti biasa, mengajar pada jam ke 9 dan 10 alias jam pelajaran paling akhir selalu mengikuti rumus persamaan: Beban+Beban+Beban = Bx3 = B.3 = Sumpeg!!!

Bagaimana tidak sumpeg jika pelajaran yang mau diajarkan dianggap pelajaran tersulit, lalu diajarkan di saat matahari sedang semangat-semangatnya membakar bumi dan di saat konsentrasi para santri sudah tersedot habis oleh 8 jam pelajaran sebelumnya secara kontinyu sejak jam 7 pagi… Apalah yang tersisa untuk saya selain rasa sumpeg yang saya coba tutup-tutupi dengan semangat buatan untuk menggerakkan mereka mendengarkan pelajaran. Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 1, 11 Oktober 2011 in Motivasional