RSS

Arsip Kategori: Nahwu Kontemporer

Kajian tentang ilmu Nahwu atau ilmu Grammatika Bahasa Arab dengan bahasa ringan.

Sebagian besar tulisan pernah diterbitkan di majalah Al-Muslimun sebagai seri kajian bahasa.

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 15)

 Al-Maushul

 

  1. الأُلَى (dibaca Maqshur) dan الأُلاَءِ (dibaca dengan Madd).

Yang digunakan lebih banyak untuk Jama’ Mudzakkar (bentuk jamak dengan sifat laki-laki) daripada bentuk yang lain.

Contoh penggunaan الأُلَى bisa dilihat dalam bait-bait sya’ir karya Ibnu Nabatah berikut ini:

* قَدْ سَمِعْناَ بِالعِزِّ مِن آلِ سَاسَا * نَ وَيُونَانَ فِي العُصُورِ الخَوَالِي *

* وَالْمُلُوْكِ الأُلَى إِذاَ ضَاعَ ذِكْرٌ * وُجِدُوا فِيْ سَوَائِرِ الأَمْثَالِ *

(Kami telah dengar kemuliaan keluarga Sasanid dan Yunani pada masa-masa yang telah lalu. Dan juga tentang raja-raja yang jika telah hilang ingatan orang atas mereka maka mereka akan dijumpai dalam semua perumpamaan). Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 25 November 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 14)

Al-Maushul

Al-Maushul Al-Ismi

Al-Maushul Al-Ismi ada dua macam: Nash dan Musytarak. Yang dimaksud dengan Nash adalah kata-kata yang tidak pernah digunakan oleh bangsa Arab kecuali untuk Al-Maushul. Adapun yang dimaksud dengan Musytarak adalah kata-kata yang disamping digunakan oleh bangsa Arab sebagai Al-Maushul, juga digunakan untuk yang lainnya. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 17 November 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 13)

Al-Maushul

 

Pembentukan Mashdar Muawwal Dari لَوْ Dan Jumlah Fi’liyyah

Untuk لَوْ sebagai Al-Maushul, ia hanya bisa dihubungkan dengan Jumlah Fi’liyyah (kalimat yang diawali oleh Fi’il) dengan satu syarat yaitu: bahwa Fi’il yang digunakan dalam Jumlah Fi’liyyah tersebut adalah Fi’il Mutasharrif (kata kerja yang bisa diderivasi) dan bukan Fi’il Amr (kata kerja perintah).

Contoh: Firman Allah:

وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَ

(Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).) Al-Qalam 9.

Pada ayat di atas terdapat satu Jumlah Fi’liyyah setelah Harf لَوْ yaitu kalimat تُدْهِنُ, sebab kalimat ini, meskipun pendek, sebenarnya sudah mengandung 2 unsur utama Jumlah Fi’liyyah, yaitu Fi’il (kata kerja) dan Fa’il (pelaku kata kerja). Dalam hal ini, yang menjadi Fi’il-nya adalah kata تُدْهِنُ yang artinya berpuasa, sedangkan Fa’il-nya adalah dhamir atau kata ganti أَنْتَ yang menjelaskan siapa yang berpuasa, yaitu “kamu.”

Pada ayat di atas, kata لَوْ berfungsi sebagai Al-Maushul sedangkan kalimat تُدْهِنُ berfungsi sebagai shilah-nya.

Untuk membuktikan bahwa لَوْ benar-benar berfungsi sebagai Al-Maushul, maka kita bisa men-ta’wil atau mengungkapkan ayat ini dalam bentuk lain yaitu dengan mengganti لَوْ تُدْهِنُ dengan satu Mashdar (kata dasar) yang diambil dari Shilah-nya (تُدْهِنُ) yaitu إِدْهَانٌ (Bersikap lunak) sehingga kalimat dalam ayat tersebut bisa diungkapkan dengan:

وَدُّوْا إِدْهَانَكَ فَيُدْهِنُوْنَ

(Maka mereka menginginkan sikap lunakmu lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).) Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 3 November 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 12)

Al-Maushul

 

Pembentukan Mashdar Muawwal Dari أَنْ Dan Jumlah Fi’liyyah

Untuk أَنْ sebagai Al-Maushul, ia hanya bisa dihubungkan dengan Jumlah Fi’liyyah (kalimat yang diawali oleh Fi’il). Jumlah Fi’liyyah yang dimaksud ada tiga macam, yaitu:

  1. Mengandung Fi’il Mudhari’ (sekarang dan akan datang).
  2. Mengandung Fi’il Madhi (lampau).
  3. Mengandung Fi’il Amr (perintah).

Ahli bahasa sepakat menggunakan yang pertama sebagai Mashdar Muawwal, namun untuk yang kedua dan ketiga, terjadi perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya keduanya dijadikan Mashdar Muawwal. Dan dalam pembahasan berikut, hanya akan dibahas pendapat yang membolehkannya. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 27 Oktober 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 11)

Al-Maushul

 

Pembentukan Mashdar Muawwal Dari أَنَّ Dan Jumlah Ismiyyah

Dalam proses pembentukan Mashdar Muawwal yang di-ta’wil-kan dari أَنَّ dan Jumlah Ismiyyah sebagai Shilah-nya, perlu dilihat apa yang menjadi Khabar (kata atau kalimat yang menjadi bagian inti dari Jumlah Ismiyyah yang berfungsi untuk menyempurnakan makna) dari Jumlah Ismiyyah tersebut.

Dengan mengetahui jenis-jenis Khabar ini, barulah kita bisa tentukan bentuk Mashdar yang dibutuhkan. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 18 Oktober 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 10)

Isim Isyarah (Kata Tunjuk)

Isim Isyarah untuk menunjuk suatu tempat yang jauh

Adapun untuk menunjuk suatu tempat yang jaraknya jauh, maka digunakanlah Isim-isim Isyarah berikut ini:

هُنَاكَ , هَاهُنَاكَ , هُنَالِكَ , هَنَّا , هِنَّا , هَنَتَ dan juga ثَمَّ yang semuanya berarti “di sana.”

Contoh: Firman Allah dalam surah Asy-Syu’ara ayat 64:

وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الآخَرِيْنَ

(Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain).

Pada contoh di atas digunakan kata ثَمَّ yang berarti “di sana.”

Perlu diketahui bahwa Isim-isim Isyarah yang digunakan untuk menunjukkan tempat yang telah disebutkan di atas tidaklah menunjukkan keharusan penggunaannya setiap kali kita ingin menunjuk suatu tempat tertentu. Sebab kita bisa saja menggunakan Isim Isyarah biasa (yaitu هَذَا dan yang sejenisnya) yang sudah disebutkan pada awal pembahasan ini karena Isim-isim Isyarah tersebut bisa digunakan untuk menunjuk benda ataupun tempat. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 8 September 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah

 

An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah (bagian 9)

Isim Isyarah (Kata Tunjuk)

Isim Isyarah untuk jarak jauh

Jika sasaran atau benda yang ditunjuk oleh Isim Isyarah berada pada tempat yang jauh, maka ditambahkan huruf Kaaf (yang sering disebut sebagai Kaaful Khitab yang mewakili lawan bicara) setelah Isim Isyarah tadi.

Contoh: ذَا(Ini) menjadi ذَاكَ(Itu) bila yang ditunjuk adalah Mudzakkar. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 28 Agustus 2011 in 03. An-Nakiroh dan Al-Ma’rifah