RSS

Arsip Kategori: Bulughul Maram

Kajian hadits-hadits Bulughul Maram secara berurutan dilengkapi status hadits, maksud dan hukum yang dapat disimpulkan untuk diamalkan.

Hadits Nomor 25

(25)
وَعَنْهُ قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ، أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَبَا طَلْحَةَ، فَنَادَى: “إِنَّ اَللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ اَلْحُمُرِ اَلْأَهْلِيَّةِ، فَإِنَّهَا رِجْسٌ” – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dan darinya (Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu) ia berkata: Ketika terjadi perang Khaibar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan Abu Thalhah, maka ia menyeru: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian memakan daging keledai negeri, karena ia kotor.” Muttafaqun ‘Alaih (disepakati oleh Al-Bukhary dan Muslim).

==============================

Status Hadits: Shahih

Maksud Hadits:
Keledai negeri yang menjadi barang rampasan perang, sebelum dibagikan kepada yang bersangkutan belum boleh dimakan.

Hukum:
Haram.

Keterangan:
Disebutkan pula oleh Muslim:

فَقَالَ نَاسٌ إِنَّمَا نَهَى عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لأَنَّهَا لَمْ تُخَمَّسْ. وَقَالَ آخَرُونَ نَهَى عَنْهَا أَلْبَتَّةَ.

Artinya: “Maka berkatalah orang-orang: Hanyasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarangnya karena dia itu belum belum dibagi lima bagian. Dan berkatalah yang lain bahwa beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarangnya sama sekali.”

Istifadah:
Para ulama’ menyebutkan 4 sebab (‘illat) larangan mengkonsumsi keledai negeri berdasarkan riwayat-riwayat yang berkenaan dengan masalah ini. Sebab yang pertama adalah karena keledai-keledai itu belum dibagi lima sesuai dengan peraturan harta rampasan perang yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Yang kedua karena keledai-keledai itu memakan kotoran. Yang ketiga karena keledai-keledai itu sangat dibutuhkan dagingnya untuk dimakan, karena pada saat perang Khaibar tersebut para shahabat ditimpa kelaparan yang sangat sementara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ingin menjaga kelestariannya. Dan yang terakhir adalah karena keledai-keledai itu dzatnya termasuk rijsun atau kotor di mana sebagian orang menganggapnya sebagai najis.

Dari ‘illat-‘illat yang nampak ini, maka ada sebagian ulama’ yang mengharamkannya total baik karena dianggap najis atau karena dianggap pemakan kotoran, ada pula yang mengharamkannya sampai ia dibagi lima bagian, ada pula yang mengharamkannya jika ia langka dan terancam kelestariannya.

Dalam masalah ini, ‘illat yang lebih tepat adalah karena ia belum dibagi menjadi lima bagian berdasar kondisi terjadinya peperangan tersebut.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 20 Agustus 2010 in Bulughul Maram

 

Hadits Nomor 24

بَابُ إِزَالَةِ اَلنَّجَاسَةِ وَبَيَانِهَا
(24)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ اَلْخَمْرِ تُتَّخَذُ خَلًّا، قَالَ: (لَا). أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Bab Menghilangkan Najis dan Penjelasannya

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang Khamr yang dijadikan cuka, beliau bersabda: “Tidak boleh.”

Disebutkan oleh Muslim.

==============================

Status Hadits: Shahih

Maksud Hadits:
Sesuatu yang haram walaupun diproses dengan cara tertentu tetap haram.

Hukum:
Haram.

Istifadah:
Dari hadits ini diambil makna yang lebih umum bahwa yang menjadi perhatian adalah asal zatnya, bukan hasil akhirnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 11 Agustus 2010 in Bulughul Maram

 

Hadits Nomor 23

(23)
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضي الله عنه – أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – اِنْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ
Dan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bahwasannya gelas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam retak, maka beliau letakkan di tempat yang retak tersebut satu sambungan dari perak. Disebutkan oleh Al-Bukhary.
==============================

Status Hadits: Shahih

Maksud Hadits:
Bejana emas atau perak yang ada campuran bahan lain boleh dipakai.

Hukum:
Mubah (hadits ini penjelasan hadits nomor 16).

Istifadah:
Yang diambil ukuran oleh para ulama’ adalah seberapa banyak kadar emas dan perak yang terdapat dalam zat bejana tersebut. Para ulama’ berijtihad bahwa kadar yang melebihi 50% dianggap terkena larangan pada hadits nomor 16. Hal yang sama juga dijelaskan oleh ulama’ tentang masalah menggunakan baju dari bahan sutra campuran untuk laki-laki.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 28 Juni 2010 in Bulughul Maram

 

Hadits Nomor 22

(22)
وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَصْحَابَهُ تَوَضَّئُوا مِنْ مَزَادَةِ امْرَأَةٍ مُشْرِكَةٍ. – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ.
Dan dari Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhuma bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya berwudhu dari bejana seorang perempuan musyrik. Muttafaqun ‘Alaih (disepakati oleh Al-Bukhary dan Muslim), dalam satu hadits yang panjang.

==============================

Status Hadits: Shahih

Maksud Hadits:
Boleh bersuci dengan air dari bejana orang musyrik.

Hukum:
Mubah (tidak najis).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 28 Juni 2010 in Bulughul Maram

 

Hadits Nomor 21

(21)
وَعَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قُلْتُ: يَا رَسُولَ الْلَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟ قَالَ: “لَا تَأْكُلُوا فِيهَا، إِلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا، وَكُلُوا فِيهَا” – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dan dari Abi Tsa’labah Al-Khusyany Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: Aku berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berada di tanah suatu kaum Ahli Kitab, apakah kami boleh makan menggunakan bejana-bejana mereka?” Beliau menjawab: “Janganlah kalian makan dengannya, kecuali jika kalian tidak menjumpai selainnya, maka cucilah dia dan makanlah dengannya.” Muttafaqun ‘Alaih (disepakati oleh Al-Bukhary dan Muslim).

==============================

Status Hadits: Shahih

Maksud Hadits:
Syarat bolehnya memakai bejana orang kafir adalah:
1. Kalau tidak ada bejana lain.
2. Sesudah dicuci.

Hukum:
Mubah memakainya dan wajib mencucinya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 28 Juni 2010 in Bulughul Maram

 

Hadits Nomor 20

(20)
وَعَنْ مَيْمُونَةَ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: – مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِشَاةٍ يَجُرُّونَهَا، فَقَالَ: “لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا؟” فَقَالُوا: إِنَّهَا مَيْتَةٌ، فَقَالَ: “يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ” – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ
Dan dari Maimunah Radhiyallahu ‘Anha ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melewati seekor domba yang mereka (para shahabat) sedang menyeretnya, maka beliau bersabda: “Seandainya kalian (mau) ambil kulitnya,” maka mereka menjawab: “Sesungguhnya ia ini bangkai,” maka beliau bersabda: “Air dan daun bidara dapat menyucikannya.” Disebutkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i.
==============================
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 23 Mei 2010 in Bulughul Maram

 

Hadits Nomor 19

(19)
وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْمُحَبِّقِ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ الْلَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ( دِبَاغُ جُلُودِ الْمَيْتَةِ طُهُورُهاَ ) صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ
Dan dari Salamah bin Al-Muhabbiq Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Penyamakan kulit bangkai adalah pensuciannya.” Dishahihkan oleh Ibnu Hibban.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 14 Mei 2010 in Bulughul Maram