RSS

Khutbah Iedul Fithri 1433 H

19 Agu

بسم الله الرحمن الرحيم

Muqaddimah

الحمد لله، الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق، ليظهره على الدين كله، وكفى بالله شهيدا.

الحمد لله، الذي كتب علينا الصيام، وجعله لنا علامةَ الطاعة والإيمانِ، وكفى به المسلمين نِعَما وفرحا.

الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، في كل لحظات يعطيها لنا من عنده فرصة وبركة.

ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، عياذا متلوا من عنده بالمغفرة والرحمة.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، فاطرُ السماوات والأرض وما بينهما من البرية.

وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، خاتَمُ الأنبياء والمرسلين وحامل تعب الرسالة بكل حماسة.

فالصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم لقاء رب الجنة.

أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.

وقد قال الله تعالى في القرآن الكريم: ياأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

Puji syukur hanyalah untuk Allah Ta’ala, Yang telah memberikan nikmat dan rahmat-Nya, petunjuk dan ampunan-Nya, kepada seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada.

Puji syukur hanyalah untuk Allah Ta’ala, Yang mempersaudarakan kita dalam ikatan Aqidah suci, Aqidah Tauhid, Aqidah Ibrahim Alaihis Salam, Aqidah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Aqidah seluruh Nabi Alaihimus Salam.

Dan tak lupa, shalawat serta salam, semoga tetap tercurah atas Rasulillah Muhammad bin Abdillah, yang berjuang bertaruh nyawa di medan da’wah dan jihad, demi tegaknya kalimatillah.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Sukseskah kita dalam Ramadhan?

Ibnu Rajab Al-Hambaly dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif menyebutkan satu ungkapan:

لَيْسِ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ

“Tidaklah hari raya itu milik orang yang memakai (pakaian) baru, hanyasanya hari raya itu, milik orang yang ketaatannya bertambah.”

Yang merupakan bentuk muhasabah, bentuk menilai diri, apakah seorang muslim sukses dalam melewati Ramadhan dengan meraih segala kebaikannya, ataukah gagal dalam mencapai titik kesuksesan Ramadhan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak memfardhukan Shiyamu Ramadhan kecuali untuk manusia-manusia beriman, yang serta merta terpanggil ketika disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Maka sebagai peserta “Olimpiade Kebaikan” dalam Ramadhan, maka sudah seharusnya kita bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah kita berhasil meraih medali emas dengan cap “Shahibut Taqwa” dalam tiap perlombaan ataukah tidak.

Sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan tujuan yang jelas dari kewajiban Shiyamu Ramadhan, yaitu Taqwallah, Taqwa Kepada Allah, agar kaum mu’minin menjadi manusia-manusia yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Orang yang bertaqwa adalah pribadi-pribadi yang semakin bertambah ketaatannya kepada aturan, tata-tertib dan syariah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam begitu dia lepas melewati Ramadhan.

Mengukur kesuksesan dalam ber-Ramadhan, tentu tidak bisa dilakukan ketika masih dalam bulan Ramadhan. Karena mengukur kesuksesan dalam ber-Ramadhan justru dilihat dari “Maa ba’da Ramadhan” yaitu “Sikap yang muncul setelah Ramadhan.”

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Para ulama menyebutkan beberapa parameter, beberapa ukuran yang dijadikan pegangan dalam menilai kesuksesan ber-Ramadhan:

  1. Ketaqwaan yang bertambah, karena Shiyamu Ramadhan tidak lain adalah untuk memburu gelar itu.
  2. Iman yang semakin kuat, karena seluruh rangkaian ibadah Ramadhan adalah bentuk taqarrub paling massif yang bisa dilakukan kaum muslimin secara serentak, periodik, kontinyu dan jama’i. Semakin massif suatu ibadah, semakin dekatlah pelakunya dengan Allah. Semakin dekat dengan Allah, semakin kuat iman seseorang.
  3. Akhlaq yang semakin mulia, karena banyaknya latihan-latihan dalam Ramadhan yang bersentuhan erat dengan akhlaq, seperti menjaga lidah agar tidak dusta, membantu kaum lemah yang membutuhkan, juga mengendalikan hawa nafsu yang hakikatnya adalah latihan-latihan ketat dalam berakhlaq mulia.
  4. Semangat memakmurkan masjid, karena secara kasat mata kita akan melihat bagaimana kaum muslimin yang biasanya disibukkan oleh kesibukan-kesibukan duniawi di luar masjid, mendadak berlomba-lomba memenuhi masjid untuk meraih semua kebaikan.

Maka, siapapun yang setelah melewati Ramadhan ternyata imannya tidak bertambah, taqwanya tidak bertambah, taatnya tidak bertambah, akhlaqnya tidak menjadi lebih baik, maka sejatinya, Idul Fitri hari ini bukanlah miliknya.

Ia bisa saja tersenyum dan tertawa-tawa pada hari ini, ia bisa saja menampakkan kegembiraan bersama keluarganya pada hari ini dan ia bisa saja merayakan sesuatu di hari ahad ini, tapi sejatinya ia tidak merayakan Idul Fitri karena tidak ada perubahan pada dirinya selain selembar baju baru yang ia pakai setelah Ramadhan.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Mempertahankan kebaikan Ramadhan

Setelah melewati Ramadhan, kompetisi berikutnya adalah kompetisi untuk tetap mempertahankan kebaikan Ramadhan. Karena yang diukur dari kesuksesan dalam Ramadhan adalah: sikap kita setelah Ramadhan, gaya hidup kita setelah Ramadhan dan akhlaq kita setelah Ramadhan.

Jika sebelum Ramadhan kita sering shalat munfarid, lalu dilatih di dalam Ramadhan agar terbiasa shalat berjama’ah, maka pasca Ramadhan mudah-mudahan kita lebih bersemangat lagi untuk berjama’ah untuk menunjukkan perubahan sikap kita ke arah yang lebih baik.

Jika sebelum Ramadhan kita mampu tadarus Al-Qur’an sehari 2 lembar, lalu melatih diri di dalam Ramadhan agar mampu menghabiskan 1 juz setiap ba’da Qiyamu Ramadhan, maka pasca Ramadhan ini mudah-mudahan kita mampu tadarus 2 juz siang dan malam untuk menunjukkan perubahan gaya hidup kita ke arah yang lebih baik.

Jika sebelum Ramadhan kita berinfaq per pekan Rp.10.000,-, lalu memberanikan diri dalam Ramadhan untuk berinfaq Rp.50.000,- per pekan, maka pasca Ramadhan mudah-mudahan kita mempunyai keberanian lebih untuk merogoh kantong lebih dalam lagi hingga mampu berinfaq Rp.100.000,- per pekan untuk menunjukkan perubahan akhlak kita ke arah yang lebih baik.

Inilah bukti kesuksesan kita dalam Ramadhan, inilah bukti keberhasilan kita dalam Ramadhan.

Jangan sampai kita kembali kepada kebiasaan lama sebelum Ramadhan. Kebiasaan shalat munfarid, shalat sendirian dan enggan berjamaah, kebiasaan mendengarkan lagu-lagu tak bermanfaat yang melalaikan lalu melupakan tilawah Al-Qur’an, kebiasaan mendekap dompet rapat-rapat hingga satu senpun tak keluar untuk kotak infaq.

Maka sungguh merugilah orang-orang yang tidak tershibghah, tidak terwarnai oleh Ramadhan dan lebih memilih kembali mengenakan warna-warna gelap, warna-warna kusam yang dihasilkan oleh kebiasaan hidupnya sebelum Ramadhan.

Oleh karena itu, marilah kita teguhkan tekad, memasang azam, bahwa kita akan tetap mempertahankan pencapaian kita dalam Ramadhan kemarin hingga bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Kita tinggalkan kebiasaan lama kita yang selalu menjadikan Ramadhan sebagai “Festival Tahunan” yang pemuncaknya adalah “Festival Mudik” yang dibarengi dengan “Festival Kemungkaran” yang didukung puluhan ribu muda-mudi yang dengan sengaja mengotori malam Iedul Fithri dengan kongkow-kongkow di pinggir jalan, membakar petasan tanpa henti, konvoi kebut-kebutan dan bermesra-mesraan dengan anak gadis orang. Kita tinggalkan kebiasaan lama itu.

Kembali kepada nukilan Ibnu Rajab Al-Hambaly bahwa hari raya yang sebenarnya hanyalah milik orang yang ketaatannya bertambah pasca Ramadhan lalu diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.

Mudahan-mudahan kita termasuk di dalamnya.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Menghadapi tantangan-tantangan zaman dengan iman

Tahun telah berganti tahun, era telah berganti era dan zaman telah digantikan zaman yang lainnya. Dalam perjalanan waktu ini, umat Islam selalu menerima tantangan yang kian hari kian bertambah berat.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah fenomena kedangkalan iman. Suatu fenomena yang disebabkan kurangnya interaksi seorang hamba dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kehidupannya.

Sangat banyak kaum muslimin yang tidak peduli apakah imannya terjaga atau tidak, banyak pula kaum muslimin yang tidak peduli apakah keluarganya beriman atau tidak, dan bahkan bisa jadi banyak juga kaum muslimin yang jahil dan tidak tahu apakah sebenarnya arti iman itu sendiri.

Umat Islam banyak terlenakan dengan urusan-urusan duniawi, urusan-urusan kesenangan, hiburan dan senda gurau duniawi, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi peringatan:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbanyak-banyakan harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Karena sibuk dengan dunia, maka imanpun dikorbankan. Maka tak heran, kalau banyak umat Islam yang posisinya tidak jelas dan selalu jauh dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akibatnya, banyak kaum muslimin yang bersikap seperti kaum kafir, sangat cinta dunia dan enggan untuk berpisah darinya.

Sungguh benarlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika menyebutkan bahwa Allah akan menanamkan sifat Al-Wahn dalam dada-dada kaum muslimin, satu sifat jelek yang menimpa umat Islam ini di akhir zaman, yaitu Hubbud Dunya Wa Karahiyatul Maut. Cinta dunia dan takut mati.

Ketika umat Islam mengalami pendangkalan iman, lalu menjadi dalam kecintaannya kepada dunia hingga enggan dan takut untuk mati, maka musuh-musuh umat akan datang dari segala penjuru dan meletakkan umat Islam di tengah meja makan untuk disantap bersama-sama.

Hilang sudah rasa ta’jub mereka kepada umat Islam, hilang sudah rasa gentar mereka kepada pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, hilang sudah rasa hormat mereka kepada umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam karena pendangkalan iman ini.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Tantangan yang lain lagi adalah fenomena kemerosotan akhlaq kaum muslimin yang dapat berubah menjadi suatu bentuk dekadensi moral secara menyeluruh.

Ketika para pemuda tidak lagi menghormati orang tua, murid tidak lagi santun kepada guru, tetangga terbiasa bergunjing tetangganya, anak-anak mahir bersumpah serapah, para pemudi mengumbar auratnya lalu melepaskan kehormatannya kapan dia suka sementara tiap anggota masyarakat saling zhalim menzhalimi dan saling bersuuzhzhan juga berprasangka, maka kondisi seperti ini adalah musibah besar bagi negeri ini.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah: diangkatnya ilmu, menetapnya kejahilan/ketidaktahuan, diminumnya khamr dan tampaknya zina.”

Ini adalah musibah dan parahnya, nyaris seluruh anggota masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa karena undang-undang kita tidak mengcover urusan ejek-mengejek, umpat-mengumpat, gunjing-menggunjing, umbar aurat, zina ataupun dosa-dosa besar lainnya.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Kaum muslimin juga dihadapkan kepada polusi pemikiran, baik itu berupa usaha sekularisasi sistematis yang memisahkan ajaran dan nilai-nilai agama dari kehidupan publik di mana sekolah-sekolah dibatasi mengajarkan agama, hukum dibatasi berbicara tentang agama, bahkan politik administratif pun dilandasi semangat tanpa agama.

Kaum muslimin juga dihadapkan kepada usaha liberalisasi, yang mengklaim akan membebaskan manusia dari ikatan agama, ikatan-ikatan ilahi, dengan mentafsirkan dan menyeret Al-Quran sesuai kebutuhan, dengan membelokkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sekehendak hati, hingga ajaran dan tuntunan Islam yang sebenarnya menguap, lalu yang tinggal hanya nama dan ritualnya saja.

Diperkeruh lagi dengan faham keberagaman, pluralisme. Yang menganggap semua agama adalah sama, semua tuhan adalah sama, semua ritual agama apapun sama, bisa diterima dan menjamin masuk surga, lalu menjebak kaum muslimin hingga menjadi abu jahal-abu jahal baru, abu lahab-abu lahab baru yang mengajak sesamanya untuk barter agama, barter keyakinan, barter iman!

Padahal Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengatakan: “Lakum diinukum wa liya diin.”

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Semua akar dari tantangan-tantangan ini adalah kedangkalan iman dan keroposnya iman umat Islam. Oleh karena itu, dari mimbar ini, saya menyerukan kepada seluruh kaum muslimin, dengan semangat kebaikan Ramadhan yang masih ada, kita tanamkan iman lebih dalam pada diri kita dan pada keluarga kita, kita pupuk dengan memperbanyak interaksi ibadah kepada Allah, kita jaga dengan menyerahkan seluruh hidup dan mati kita kepada Allah, maka dengan upaya ini, dapatlah kaum muslimin mendapatkan kembali keunggulannya, diridhai dan diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Meningkatkan kepekaan diri terhadap lingkungan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

تَرَى المُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، كَمَثَلِ الجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى

“Engkau akan melihat kaum mu’minin, dalam saling mengasihi, saling mencintai dan saling bersimpatinya mereka, seperti perumpamaan satu tubuh, jika ia merasakan sakit pada satu anggota tubuh, maka seluruh tubuh akan merasakannya dengan cara begadang dan demam.”

Kaum muslimin, sejatinya adalah satu tubuh yang mampu merasakan, mampu berempati dan sensitif terhadap sesamanya, terhadap lingkungannya.

Ketika sebagian kaum muslimin ditimpa kemalangan, maka muslim yang baik akan turut merasakan kemalangan tersebut. Ketika sebagian kaum muslimin berada dalam kemiskinan, kesusahan atau tertimpa bencana dalam kehidupan, maka muslim yang baik akan turut merasakan penderitaannya.

Berapa banyak saudara-saudara kita terzhalimi di luar sana. Di Ambon, di Palestina. Bahkan di Myanmar, saat Ramadhan berlangsung, ketika kita nikmat berpuasa, menghadiri Qiyamu Ramadhan dan tadarus, kaum muslimin di sana justru diusir, dibakar rumah dan pasarnya, dibunuh di jalanan, tersudut di pengungsian dalam keadaan kekurangan pangan dan obat-obatan. Sementara banyak dari kita yang terlena dengan dunianya sendiri, tidak mendengar dan tidak peduli dengan sesamanya. Tidak membantu tidak pula berdoa.

Maka berhasillah sudah musuh-musuh Islam dalam proyeknya memecah belah umat, menjauhkannya dari Al-Quran dan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hingga tidak lagi merasakan saudaranya sebagai saudara dan menganggapnya sebagai beban yang harus disingkirkan.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Oleh karena itu, dari mimbar ini, saya menyerukan kepada seluruh kaum muslimin, dengan semangat kebaikan Ramadhan yang masih tebal dalam diri kita, kita tumbuhkan kepekaan diri kita terhadap saudara-saudara kita, kita usahakan kebahagiaan yang sama untuk saudara-saudara kita, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian, hingga ia menyukai untuk saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri.”

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Kewajiban Nahi Munkar

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuji kaum muslimin sebagai umat terbaik, sebagaimana firman-Nya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Pujian Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini didasarkan kepada sifat Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang tersemat pada diri setiap muslim dengan diiringi iman kepada-Nya.

Memerintahkan kepada yang ma’ruf, yang baik, yang diterima masyarakat secara luas adalah sesuatu yang mudah dilakukan. Mengajak manusia bertauhid, mengajak shalat, menunaikan zakat, menutup aurat dan berakhlaq mulia adalah sesuatu yang mudah dilaksanakan, karena masyarakat kita sejatinya siap untuk diajak ke arah yang lebih baik.

Namun berbeda kisahnya jika kita berbicara tentang Nahi Munkar yang merupakan cegahan dan larangan, yang secara naluriah, manusia menjadi enggan ketika dilarang-larang atau dicegah melakukan apa yang dia suka oleh sesama manusia.

Masyarakat zaman sekarang berubah menjadi masyarakat yang sangat peka dan resisten terhadap larangan, yang justru mengakibatkan munculnya masyarakat permisif yang selalu mengizinkan kegiatan apapun dilakukan oleh anggota-anggotanya karena masyarakat tersebut tidak mampu melaksanakan Nahi Munkar.

Sebagai contoh, jika ada seseorang yang hendak melakukan kejahatan, menjambret atau mencuri, maka sangat jarang ada anggota masyarakat yang kemudian mencegah dan melarangnya, entah karena takut, entah karena merasa itu bukan urusannya.

Jika ada seorang guru melarang muridnya agar tidak terlibat pergaulan bebas, maka pada zaman sekarang bisa jadi guru tersebut dapat dilaporkan kepada fihak berwajib karena dianggap mengganggu privasi orang lain.

Kalau ada orang tua yang melarang anak-anaknya keluar malam, maka barangkali ia akan dicap kuno dan ketinggalan zaman atau bisa jadi dilaporkan ke Komnas Perlindungan Anak. Bahkan seandainya jika kita melarang para pemuda mabuk-mabukan di pojok kampung, maka barangkali kita akan diserang secara fisik sehingga kita tidak berani melakukan Nahi Munkar lagi. Karena selalu mendapat penentangan, maka semakin berkuranglah gerakan Nahi Munkar, bahkan cenderung hilang.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Maka dari itu, sudah saatnya ormas-ormas Islam menjalin kerja sama yang baik dalam melaksanakan Nahi Munkar karena sebenarnya semua elemen masyarakat benci atas kemunkaran.

Jika semua anggota masyarakat turut serta dalam memberantas kema’shiyatan, mengganyang kemunkaran, membabat habis penyakit masyarakat, maka sikap Nahi Munkar ini sedikit demi sedikit akan tumbuh kembali, kebiasan menegur sesama untuk kebaikan akan bersemayam di dalam diri. Sebagai hasilnya, masyarakat tersebut akan merasa aman dan tentram.

Sebagai kunci utama, marilah kita jalin Ukhuwwah Islamiyyah dengan erat, lalu kita gerakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar secara berjamaah, sehingga gelar umat terbaik dapat kita raih kembali.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Menjaga keluarga kita

Di atas mimbar ini pula saya serukan, agar kita bersama-sama membentengi keluarga kita, secara khusus anak-anak dan remaja-remaja kita dari pengaruh-pengaruh budaya kufur yang semakin merajalela.

Jangan beri kesempatan pengaruh-pengaruh buruk media elektronik dan cetak merusak generasi kaum muslimin, jangan biarkan mereka mengikuti bintang-bintang kafir yang menjajakan kekafirannya. Apakah kita suka anak-anak dan remaja-remaja kita berdandan dan menyanyi ala artis-artis korea, menari-nari layaknya artis-artis india lalu bergaul bebas layaknya artis-artis barat?

Bimbing mereka, kenalkan mereka dengan ajaran Rasulullah, yang mulia akhlaqnya, yang luar biasa cara hidupnya, yang hebat perjuangannya. Jangan sampai mereka kehilangan jati diri sebagai muslim. Jangan sampai mereka mengidolakan artis-artis kafir itu, jangan sampai mereka meninggalkan Al-Quran dan menggantinya dengan nyanyian-nyanyian syahwat yang melenakan. Mereka adalah generasi masa depan umat ini, mari bersama-sama kita selamatkan mereka.

Janganlah kita bosan mengajarkan aqidah Islam dan keimanan yang teguh serta selalu mencontohkan akhlaq mulia kepada remaja-remaja dan anak-anak kita, agar fitrah, jiwa dan nuraninya selalu terjaga.

Tidak ada gunanya jika mereka cerdas dan pintar di sekolah namun pada akhirnya menjadi manusia-manusia culas yang pandai menipu dan pandai mencuri uang amanah.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Tiap orang adalah pemimpin, dan tiap pemimpin bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.”

Mari kita jaga bersama-sama apa yang menjadi tanggung jawab kita, menjaga keluarga dan masyarakat kita, agar tetap berada di jalur tauhid dan Islam, yang dengan itu kita bisa meraih: Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Suatu negeri yang baik, yang thayyib, dengan Allah yang selalu memberikan ampunan.

Mudah-mudahan kita selalu diberi kekuatan untuk selalu istiqamah melaksanakan amanah ini.

الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد.

Dan sebagai penutup, saya berpesan kepada para muballigh dan teman-teman da’i di mana saja. Untuk selalu mengingat sabda Rasulullah:

إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ رواه مسلم

“Sesungguhnya panjangnya sholat seseorang dan pendeknya khutbah seseorang adalah tanda -dalamnya- ilmu/pemahamannya. Maka panjangkanlah sholat dan pendekkanlah khutbah.”

قال الله تعالى في القرآن الكريم:

إن الله وملائكته يصلون على النبي، يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياءِ منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات.

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين ءامنوا ربنا إنك رءوف رحيم.

ربنا إننا ظلمنا أنفسنا فإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين.

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب.

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما.

ربنا أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه.

ربنا إنا نعوذ بك من العجز والكسل والجبن والبخل والهرم وعذاب القبر.

اللهم انصر إخواننا المظلومين في بورما، اللهم انصر إخواننا المجاهدين في فلسطين، اللهم انصر إخواننا المجاهدين في كل مكان.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

عباد الله، إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي لعلكم تذكرون ولذكر الله أكبر.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Moropelang, 1 Syawal 1433H

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 19 Agustus 2012 in Tulisan Bebas

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: