RSS

Meneriakkan Kutukan VS Melantunkan Pujian

11 Sep

Para pembaca mungkin pernah menonton film India berjudul Taree Zameen Par yang dibintangi Amir Khan. Sebuah film “out of the box” yang keluar dari pakem film-film hindi yang biasanya berkutat dengan roman percintaan yang dibumbui tarian-tarian sensual atau adegan eksyen beladiri yang parabolik, sedikit “jayus” dan terkadang “lebay.”

Film yang membuka cakrawala tentang bagaimana dunia anak-anak dan bagaimana setiap anak mempunyai keunikan yang bisa dikembangkan melalui pendidikan berbasis karakter dengan cara dan metode yang tepat juga sekaligus menyampaikan pesan bahwa sudah selayaknya para orang tua memahami kemampuan anak-anaknya dan tidak sekedar menuntut apa yang mereka inginkan.

Kalau penasaran silahkan para pembaca menyaksikannya sendiri. Yang jelas, pada tulisan ini saya hanya ingin menyoroti satu cerita yang disampaikan dalam salah satu adegan film tersebut yang menyebutkan tentang suatu tradisi unik yang dilakukan penduduk kepulauan Solomon yang terletak di timur Papua Nugini.

Disebutkan bahwa bila penduduk kepulauan tersebut hendak menyingkirkan atau memotong pohon yang terlalu besar untuk dikampak, maka seluruh penduduk desa berkumpul di pagi hari mengelilingi dan memanjati pohon tersebut lalu bersama-sama meneriaki pohon tersebut dengan kata-kata umpatan dan kutukan selama kurang lebih 30-40 hari hingga pohon itu mengering dan mati lalu roboh dengan sendirinya. Mereka percaya bahwa meneriaki pohon terus menerus akan membuat roh pohon tersebut mati sehingga mudah untuk menyingkirkannya.

Anda boleh melihat link-link berikut untuk mengetahui lebih lanjut cerita di atas:

  1. Yelling at trees in the Solomon islands
  2. Is it true that people of Solomon island curse the trees if they want to clear the trees?

Lebih jauh, telah banyak disebutkan penelitian terhadap pengaruh audio terhadap pertumbuhan pohon terutama musik. Ada yang meyakini adanya hubungan antara alunan musik lembut dan klasik sebagai daya dorong pertumbuhan pohon, sementara raungan musik rock dan hentakan musik rap memberi efek sebaliknya. Adapula yang skeptis terhadap hipotesa ini karena bertahan kepada fakta bahwa pohon manapun tidak mempunyai sensor audio, sementara musik adalah kelompok vibrasi atau getaran yang ditangkap oleh indera pendengaran.

Simak beberapa halaman berikut:

  1. Does music affect plant growth?
  2. Plant Music

Adapula penelitian terbaru mengenai pengaruh audio terhadap air yang dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto, seorang ahli air dari Jepang. Masaru mencoba menggunakan bermacam-macam air dari berbagai sumber air dalam penelitiannya untuk membuktikan pengaruh audio terhadap air tersebut dengan cara membekukan air-air tadi secepat mungkin setelah suatu rangkaian terapi audio diucapkan, dilantunkan atau dinyanyikan di dekat air-air tersebut.

Ia menggunakan air dari pegunungan, air dari tempat keruh, air yang terkena polusi, air hasil distilasi (penyulingan) juga air yang bercampur saliva manusia atau bercampur dengan cairan lainnya. Untuk audio yang digunakan, ia menggunakan doa dalam bahasa Jepang, suku-suku kata, frasa-frasa pendek dalam berbagai bahasa, musik dan juga lagu. Ia juga menggunakan aroma wewangian dari berbagai macam bunga untuk melihat pengaruhnya terhadap air-air yang dijadikan objek penelitian.

Setelah proses pembekuan, air-air yang sudah menerima terapi audio tadi diletakkan di bawah mikroskop untuk dilihat susunan kristal esnya lalu difoto. Maka, dari banyak sampel air yang ia gunakan dan dari banyak foto yang ia hasilkan, ia mendapat kesimpulan bahwa air pegunungan dan air murni hasil distilasi (penyulingan) mampu menghasilkan kristal es hexagonal yang sempurna sementara air yang terkena polusi tak mampu membentuk kristal es sama sekali.

Begitupula air yang diterapi doa mampu menghasilkan kristal es yang cantik, sebagaimana air yang diterapi dengan alunan musik klasik yang lembut atau yang diucapkan padanya ucapan “Love,” “Gratitude,” “Thank you” atau “Arigato.”

Sementara air yang diterapi dengan musik rock atau diucapkan padanya ucapan “You fool” dalam bahasa Jerman, tak mampu membentuk kristal es seperti halnya air yang terkena polusi, seakan-akan penulis dan penyanyi lagu rock menganggap para penggemarnya sebagai “Fools” yang bisa dibodohi.

Adapun air yang diberi aroma wewangian bunga maka bentuk kristal esnya mirip sekali dengan bentuk bunga aslinya. Lain halnya ketika dilantunkan lagu Elvis Presley yang berjudul “Heartbreak Hotel” maka kristal es yang terbentuk adalah seperti bentuk dua hati yang terpisah. Yang berbeda adalah ketika air yang diterapi dengan diucapkan nama “Adolf Hitler” dibekukan, maka muncul kristal es berbentuk bulat berwarna coklat gelap seperti besi seakan-akan menggambarkan sikap tangan besi sang diktator itu.

Anda bisa membaca hasil penelitian Dr. Masaru Emoto berikut:

  1. Conscious Water
  2. Emoto Research
  3. Keajaiban Air

Ada juga peneliti-peneliti lain yang menggunakan media yang berbeda seperti susu dan pasir seperti disebutkan di situs Reverespins.

Masih dari peneliti yang sama, ketika Masaru mencoba meneliti air Zam-zam, muncul foto kristal es yang bahkan lebih baik dari kristal es di kutub utara ataupun kutub selatan seperti disebutkan dalam salah satu forum.

Terlepas dari penelitian-penelitian di atas, saya ingin mengajak kembali merenungi judul tulisan ini yaitu: “Meneriakkan Kutukan VS Melantunkan Pujian” yang mempunyai kaitan erat dengan cara mendidik anak-anak kita, atau lebih jauh, cara mendidik generasi penerus kita.

Sudah menjadi “Urban Legend” di masyarakat kita tentang betapa disiplinnya para orang tua bangsa ini dalam mendidik anak-anaknya di era kemerdekaan atau dekade-dekade berikutnya. Bentakan, makian atau barangkali tempelengan tangan adalah suatu yang wajar dalam pendidikan di era itu yang diakui atau tidak menjadi ciri khas tersendiri terutama jika kita berbicara tentang pelatihan di lembaga militer, kepolisian atau yang paling sering disorot TV yaitu lembaga IPDN.

Para pembaca yang lahir sebelum tahun 1980 barangkali teringat film “Ari Hanggara” yang memotret kerasnya para orang tua dalam mendisiplinkan anak-anaknya yang terkadang menuntut korban jiwa atau paling tidak telah membuat gurat rekaman traumatis di dalam memori bawah sadar mereka sehingga menimbulkan rasa takut atau bisa jadi sikap paranoid dalam diri karena takut salah ketika berhadapan dengan orang tua mereka.

Parahnya, hal ini sering kali terus melekat dalam ingatan bawah sadar yang mengontrol sikap mereka agar selalu merasa takut kepada orang yang lebih superior, entah itu orang tua mereka yang sudah lanjut usia atau mungkin figur guru atau orang yang lebih tua dari dirinya meskipun figur-figur ini bukanlah orang yang memahat gurat trauma mereka ketika masih kecil.

Yang lebih berbahaya lagi adalah, ketika trauma masa kecil ini berubah menjadi dorongan bawah sadar untuk melakukan tindakan balas dendam kepada orang tua baik dalam skala kecil seperti sikap tidak taat atau acuh tak acuh atau yang lebih gawat lagi bahkan usaha untuk melampiaskan beban trauma ini kepada anak-anak mereka sendiri tanpa sadar.

Para pembaca tentu sering membaca ulasan kejahatan di media bahwa seringkali pelaku kekejaman fisik, ternyata menyimpan trauma masa kecil saat mereka menjadi korban dari kekejaman fisik yang sama.

Sungguh benar apa yang diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang pengaruh orang tua terhadap sikap anak. Beliau bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Setiap yang dilahirkan, dilahirkan atas fitrahnya, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau menjadikannya nashrani atau menjadikannya majusi. Seperti halnya binatang ternak, dilahirkan sebagai binatang ternak. Apakah engkau (pernah) melihatnya dalam kondisi terpotong telinganya?” (H.S.R. Bukhari)

Dalam konteks masa kini, para orang tua tidak hanya berperan mengubah agama anak-anaknya, tapi juga perilaku, sikap, pandangan hidup, bahkan cara hidupnya.

Maka orang tuanyalah yang mengajarinya, berdusta, kencing di pinggir jalan, berpacaran, kurang ajar, mencuri, merampas, zhalim dan seterusnya. Juga mengajarinya meremehkan hidup, menikmati hidup atau menghancurkan hidup, sebagaimana para orang tua juga berperan mengajarinya mengumpat, mencaci, menghina dan merendahkan orang lain, dengan cara sederhana yaitu memberi contoh kepada anak-anaknya.

Tidak perlu kuliah pendidikan untuk menyimpulkan bahwa kejahatan, kemungkaran dan kema’shiyatan tidak diajarkan secara formal di sekolah-sekolah sebagaimana tidak mungkin ada kursus resmi menjadi preman di belahan dunia manapun, karena sesuatu yang jelek lebih mudah dicontohkan daripada sesuatu yang baik sebagaimana menghancurkan gedung bertingkat selalu memakan waktu jauh lebih cepat daripada membangunnya.

Maka tidak heran, bila kita bertemu anak-anak yang suka mengumpat, maka tidak lain karena mereka juga menerima umpatan dari orang tua mereka. Dan tak salah memang jika ada peribahasa menyebutkan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” yang barangkali lebih pas kalau kita ungkapkan dengan bentuk baru “Ortu kencing berdiri, anak kencing di belakangnya!”

Tentu, anak-anak adalah “The Best Copycat,” anda tak perlu mengajarinya bermungkar ria secara formal di bangku-bangku sekolah, cukup sekali saja anda contohkan, maka anda akan malu seumur hidup karena melihat anak-anak mengulangi bahkan menduplikasi tindakan kita berkali-kali bahkan melakukan improvisasi yang lebih hebat dari apa yang kita contohkan.

Menyadari hal ini, muncul tokoh-tokoh pembaharu pendidikan, pembaharu metode pengajaran, pembaharu implementasi sikap yang baik dalam masyarakat baik itu dengan cara membentuk dan memperkenalkan pendidikan berbasis karakter, pelarangan kekerasan dalam rumah tangga, hingga membentuk lembaga perlindungan anak karena semakin banyak ragam improvisasi kekerasan orang tua kepada anak akibat pola pendidikan keras di masa sebelumnya.

Saya yakin para pembaca juga banyak menyerap informasi dari media bagaimana cara-cara keras ala era kemerdekaan sudah sangat usang bila diterapkan di era persaingan bebas seperti sekarang, sebagaimana para pembaca juga tahu berapa banyak para guru dan orang tua yang terpaksa berhadapan dengan hukum gara-gara melakukan tindak kekerasan kepada anak didiknya atau anak-anaknya sendiri.

Maka metode “meneriakkan kutukan” yang jamak dipakai di masa lampau, ternyata sangat mematikan jiwa karena mampu menanamkan racun di dalam tubuh anak secara bertahap sebagaimana para penduduk kepulauan Solomon yakin bahwa kutukan-kutukan mereka mampu mematikan roh pohon yang membuatnya tumbang.

Memang anak-anak tidak akan mati begitu saja, namun kenangan pahit dan trauma akan perlakuan buruk di masa kecil terkadang mematikan semangat berkreasi ataupun semangat untuk hidup dengan cara yang lebih baik.

Sebaliknya, “melantunkan pujian” yang tulus dan mencontohkan hal-hal yang baik, mampu membangun kristal jiwa dengan begitu indahnya sebagaimana hal yang sama mampu membentuk dan menumbuhkan kristal es dengan keindahan yang sama.

Barangkali para pembaca bisa merenungi potret pendidikan yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ الأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّهُ مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ ».

Dari Abi Hurairah R.A. bahwasannya Al-Aqra’ bin Habis melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencium Al-Hasan (cucunya). Lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, aku tidak pernah mencium satupun dari mereka.” Maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Sesungguhnya orang yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayang.” (H.S.R. Muslim).

Para pembaca bisa memperhatikan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencontohkan untuk menyayangi anak-anak kecil agar mereka juga bisa belajar bagaimana cara menyayangi orang yang lebih tua.

Ketika banyak orang meninggalkan petunjuk-petunjuk agung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini, maka akan banyak kita jumpai anak-anak yang takut dengan orang tua mereka ketika mereka masih kecil lalu saat mereka dewasa menjadi tidak peduli kepada kehidupan orang tuanya karena mereka tidak dicontohkan bagaimana cara menyayangi.

Sikap agung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang disampaikan dalam salah satu fragmen kehidupan beliau di atas tidak hanya berlaku untuk anak-anak kecil, tetapi juga kepada seluruh ummatnya karena beliau juga mencontohkan bagaimana menguasai diri agar tetap tenang dan tidak emosional juga bersikap lembut kepada sesama muslim karena tujuan pendidikan beliau adalah membangun jiwa yang kuat dan berkarakter maju dan bukan malah menghancurkannya.

Nah, silahkan anda renungi firman Allah Ta’ala berikut ini:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran 159).

Anda tidak perlu menjadi Masaru Emoto untuk mengetahui betapa efek caci-maki dapat merusak jiwa, namun terkadang orang-orang seperti Masaru diperlukan untuk menggugah hati yang tertidur, pola fikir yang stagnan juga kebiasaan menerima dogma-dogma yang kita dengar dari masyarakat atau sesepuh-sesepuh kita tanpa perenungan ulang.

Anda juga akan menyadari betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan sesuatu pada masanya yang berabad-abad kemudian terungkap kebenaran dan efektifitasnya dalam membina ummat.

Mudah-mudahan kita tidak menyia-nyiakan apa yang diamanahkan kepada kita dengan cara yang salah.

Bukan begitu Amaluna dan Maximillian?

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1, 11 September 2011 in Motivasional

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: