RSS

Al-Mu'rob dan Al-Mabni (bagian 1)

02 Agu

Al-Kalim dilihat dari harakat akhirnya terbagi menjadi dua yaitu Al-Mu’rob dan Al-Mabni.

Al-Mu’rob

Al-Mu’rob secara bahasa diambil dari kata Al-I’rob yang setidaknya punya 6 arti yaitu: keterangan, penguasaan dengan sempurna, baik, perubahan, penghapusan kerusakan dan pembicaraan dalam bahasa arab.

Al-Mu’rob secara istilah juga diambil dari definisi Al-I’rob yaitu: “Bekas yang tampak ataupun tersembunyi yang dihasilkan oleh ‘Amil –kata/kondisi yang berpengaruh- di akhir kata” atau “Perubahan akhir Al-Kalim –isim, fi’il dan harf- dengan sebab perbedaan ‘Amil yang mempengaruhinya.” Dengan demikian Al-Mu’rob adalah: “Al-Kalim yang berubah-ubah harakat akhir atau beberapa hurufnya karena pengaruh ‘Amil.”

Al-Mabni

Al-Mabni secara bahasa diambil dari kata Al-Binaa’ yang berarti: pembangunan, bangunan atau susunan bangunan.

Al-Mabni secara istilah juga diambil dari kata Al-Binaa’ yang didefinisikan sebagai: “Tetapnya akhir Al-Kalim pada semua tempat.” Dengan demikian Al-Mabni adalah: “Al-Kalim yang tetap harakat akhir atau huruf-hurufnya pada semua tempat.”

Al-Mabni dan Al-Mu’rob pada Isim

Isim terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Al-Mu’rob yang merupakan bentuk asal dari isim yang disebut Mutamakkin atau mampu berubah.
  2. Al-Mabni yang merupakan cabang atau bentuk lanjut dari isim yang disebut Ghair Mutamakkin atau tak mampu berubah.

Sebab terjadinya Al-Binaa’

Isim –yang pada asalnya mu’rob- berubah menjadi mabni apabila menyerupai harf . Bentuk keserupaan kepada harf ini ada tiga:

  1. Asy-Syibh Al-Wadh’ie atau keserupaan bentuknya. Ringkasnya, hal ini terjadi apabila suatu isim terdiri dari satu atau dua huruf saja.

Contoh satu huruf: huruf taa’ pada kata قُمْتُ (Aku berdiri).

Huruf taa’ pada susunan di atas menyerupai huruf baa’ atau laam yang berfungsi sebagai harf al-jarr atau huruf wawu dan faa’ yang berfungsi sebagai harf al-athaf (kata sambung) yang semuanya hanya terdiri dari satu huruf.

Contoh dua huruf: نَا pada kata قُمْنَا (Kami berdiri).

نَا pada susunan di atas menyerupai kata قَدْ (sungguh/terkadang) بَلْ (bahkan/akan tetapi) yang semuanya terdiri dari dua huruf.

Adapun kata أَبٌ (Bapak) dan أَخٌ (Saudara laki-laki) meskipun terdiri dari dua huruf, akan tetapi keduanya digolongkan sebagai mu’rob karena lemah penyerupaannya disebabkan bentuk akhir ini terjadi setelah mengalami modifikasi dari bentuk awalnya yaitu أَبَوٌ dan أَخَوٌ yang terdiri dari tiga huruf dengan dalil bahwa bentuk mutsanna (dua orang) dari keduanya adalah أَبَوَانِ dan أَخَوَانِ bukannya أَبَانِ dan أَخَانِ.

  1. Asy-Syibh Al-Ma’nawie atau keserupaan dalam maknanya. Hal ini terjadi apabila suatu isim mengandung makna harf, tanpa melihat apakah makna yang dikandung tersebut memiliki padan kata dalam harf atau sekedar makna abstrak tanpa memiliki padan kata dalam harf.

Contoh untuk yang memiliki padan kata: مَتَى (kapan/kapan saja).

Kata di atas sering digunakan dalam kalimat bersyarat, seperti: مَتَى تَقُمْ أَقُمْ (Kapan saja engkau berdiri maka aku akan berdiri) yang makna ini dimiliki oleh kata إِنْ (Jika) yang merupakan sebuah harf yang hanya digunakan pada kalimat bersyarat seperti: إِنْ تَقُمْ أَقُمْ (Jika engkau berdiri maka aku akan berdiri).

مَتَى juga digunakan sebagai kata tanya seperti dalam firman Allah: مَتَى نَصْرُ اللهِ (Kapan datang pertolongan Allah?) yang makna ini dimiliki oleh kata أَ (Apakah) yang merupakan sebuah harf yang hanya digunakan untuk bertanya seperti dalam firman Allah: أَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ الله؟ (Apakah kalian lebih tahu ataukah Allah –yang lebih tahu-).

Adapun kata أَيٌّ (Mana/Mana saja) yang digunakan sebagai syarat seperti pada firman Allah: أَيَّمَا الأَجَلَيْنِ قَضَيْتَ (Masa mana saja yang engkau selesaikan,maka…) ataupun digunakan sebagai kata tanya seperti firman Allah: فَأَيُّ الْفَرِيْقَيْنِ أَحَقُّ (Maka manakah dari dua kelompok itu yang lebih berhak), meskipun maknanya menyerupai makna harf tetapi ia selalu dalam kondisi idhafah (penyandaran) seperti pada dua ayat di atas di mana أَيٌّ yang pertama disandarkan pada مَا dan yang kedua disandarkan kepada الفَرِيْقَيْن sementara idhafah itu sendiri adalah ciri khusus isim, yang menyebabkan ia tidak bisa digolongkan sebagai mabni karena lemahnya penyerupaan أَيٌّ terhadap harf.

Contoh untuk yang tak ada padan katanya: هُنَا (Di sini).

Kata di atas mengandung makna isyarah (Kata tunjuk), namun dalam bahasa arab tidak pernah ada satupun harf yang digunakan untuk menunjuk sesuatu meskipun makna isyarah ini sudah sepantasnya diungkapkan dengan harf. Hal ini bisa difahami karena kata هُنَا bersifat seruan dan meminta perhatian pendengar yang merupakan sifat dasar harf at-tanbih (harf yang berfungsi meminta perhatian/mengingatkan pendengar) seperti huruf هَا pada kata tunjuk هَذَا (Ini).

Jika demikian halnya, lalu mengapa kata هَذَانِ (Ini –dua orang-) dan هَاتَانِ (Ini –dua orang perempuan-) tidak digolongkan mabni padahal keduanya punya makna isyarah dan tanbih (meminta perhatian) seperti kata هُنَا? Jawabnya, karena sisi keserupaan هَذَانِ dan هَاتَانِ dengan harf lebih lemah dibanding keserupaannya dengan isim dan sebagai dalilnya adalah bahwa kedua kata tersebut berbentuk mutsanna yang merupakan ciri khusus isim.

  1. Asy-Syibh Al-Isti’maly atau keserupaan dalam penggunaannya. Hal ini terjadi apabila sebuah isim selalu mengadopsi ciri-ciri harf seperti:
  • Menggantikan fi’il tanpa ada satupun ‘Amil (kata/kondisi yang berpengaruh) yang bisa mempengaruhi harakat atau hurufnya.
  • Secara mutlak membutuhkan suatu kalimat untuk menyempurnakan maksudnya yang jika tidak terpenuhi maka hilanglah artinya secara keseluruhan.

Contoh untuk ciri yang pertama: هَيْهَاتَ (Jauh), صَهْ (Diam!) dan أَوَّهْ (Aduh!) yang ketiganya menggantikan fi’il بَعُدَ (Jauh), اُسْكُتْ (Diam!) dan أَتَوَجَّعُ (Mengaduh kesakitan) yang ketiga kata di awal contoh ini tidak mungkin dimasuki oleh ‘Amil yang bisa mempengaruhi harakat atau huruf-hurufnya. Maka dalam hal ini ketiganya mirip dengan kondisi لَيْتَ (Andaikan) dan لَعَلَّ (Barangkali) yang merupakan dua harf yang menggantikan fi’il أَتَمَنَّى (Aku berangan-angan) dan أَتَرَجَّى (Aku berharap) yang kedua harf tersebut tidak mungkin dimasuki ‘Amil yang bisa mempengaruhi harakat atau huruf-hurufnya.

Adapun kata ضَرْباً pada kalimat ضَرْبًا زَيْداً (Pukullah Zaid!) meskipun isim ini menggantikan fi’il اِضْرِبْ (Pukullah!) akan tetapi ia tetap dianggap mu’rob karena ‘Amil mampu masuk padanya dan mempengaruhi harakat akhirnya seperti pada kalimat: أَعْجَبَنِي ضَرْبُ زَيْدٍ (Pukulan Zaid mengherankannku) atau كَرِهْتُ ضَرْبَ زَيْدٍ (Aku benci pukulan Zaid).

Contoh untuk ciri yang kedua: إِذْ (Tatkala), إِذَا (Jika) dan حَيْثُ (Tatkala) yang ketiganya tidak akan dimengerti maksudnya kecuali jika disertai kalimat-kalimat berikutnya.

Semisal jika ada kalimat إِذَا tanpa ada kelanjutannya, maka tidak akan dimengerti maksudnya hingga disebutkan kalimat berikutnya seperti dalam firman Allah: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ (Jika datang pertolongan Allah) yang menjelaskan maksudnya.

Adapun bila ada isim yang tidak membutuhkan kalimat penjelas secara mutlak maka isim tersebut tetap digolongkan sebagai mu’rob. Seperti kata يَوْمٌ dalam firman Allah: هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِيْنَ صِدْقُهُمْ (Ini adalah hari yang kejujuran memberi manfaat orang-orang yang jujur), meskipun kata يَوْمٌ membutuhkan kalimat berikutnya untuk memperjelas makna dan maksudnya, akan tetapi kebutuhan ini tidak terjadi pada tiap susunan kalimat yang menggunakan kata tersebut, seperti kalimat: صُمْتُ يَوْماً (Aku telah berpuasa sehari) yang tidak mengharuskan adanya kalimat lanjutan untuk menerangkan kata يَوْمٌ.

Begitu pula apabila ada isim yang butuh secara mutlak kepada satu kata saja dan bukan satu kalimat maka ia digolongkan sebagai mu’rob. Seperti kata عِنْدَ (Di sisi) yang harus disandarkan kepada satu kata secara mutlak, maka ia tergolong mu’rob berdalil dengan kalimat جِئْتُ مِنْ عِنْدِهِ (Aku datang dari sisinya) di mana kata عِنْدَ berubah harakat-nya menjadi kasroh.

Sebab terjadinya Al-I’rob

Suatu isim dianggap mu’rob apabila tidak menyerupai harf.

Mu’rob terbagi menjadi dua jenis:

  1. Yang tampak I’rob-nya.

Contoh: أَرْضٌ (Bumi) seperti dalam ayat-ayat berikut:

اَلَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا (Yang menjadikan untuk kalian bumi sebagai hamparan).

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَا فِيْ الأَرْضِ جَمِيْعًا (Dialah yang menciptakan untuk kalian semua apa yang ada di bumi).

  1. Yang tak nampak I’rob-nya.

Contoh: اَلْفَتَى (Pemuda) seperti dalam kalimat berikut:

جَاءَ الْفَتَى (Pemuda itu telah datang).

رَأَيْتُ الْفَتَى (Aku telah melihat pemuda itu).

مَرَرْتُ بِالفَتَى (Aku telah melewati pemuda itu).

Al-Mabni dan Al-Mu’rob pada Fi’il

Fi’il terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Al-Mabni yang merupakan bentuk asal dari fi’il, yaitu:
  • Fi’l Al-Madhi (Kata kerja lampau) yang binaa’-nya dengan fathah.

Seperti: ضَرَبَ (Telah memukul).

Adapun semisal: ضَرَبْتُ (Aku telah memukul) meskipun terlihat bahwa fi’il ini binaa’-nya dengan sukun akan tetapi bentuk asal dari fi’il ini adalah ضَرَبَتُ lalu diubah menjadi ضَرَبْتُ karena kebiasaan orang arab yang tidak suka keberadaan satu kata terdiri dari empat huruf ber-harakat selain sukun secara berturut-turut.

Begitupula dhommah pada kata ضَرَبُوْا (Mereka telah memukul) yang bentuk asalnya adalah ضَرَبَوْا dengan menggunakan fathah, lalu orang arab merubahnya menjadi ضَرَبُوْا karena lebih ringan pengucapannya dan untuk menyesuaikan dengan huruf wawu pada akhir kata.

  • Fi’l Al-Amr (Kata kerja perintah) yang binaa’-nya dengan keadaan jazm dari fi’il mudhori’-nya.

Contoh: اِضْرِبْ (Pukullah!) yang mabni dengan sukun. اِضْرِبَا (Pukullah kalian berdua!) yang mabni dengan cara membuang huruf nun di akhir kata. اُغْزُ (Berperanglah!) yang mabni dengan cara membuang huruf terakhir.

Seperti diketahui bahwa setiap fi’il amr terjadi dari modifikasi fi’il mudhori’ mukhotob (kata kerja bentuk sekarang untuk orang kedua) melalui dua tahapan.

Pertama, dengan menjadikannya berkondisi jazm –tentang jazm akan kami bahas secara tersendiri di edisi-edisi berikutnya-.

Kedua, membuang huruf pertama di awal kata (harf al-mudhoro’ah) dan menggantinya dengan huruf alif.

Sebagai contoh; kata اِضْرِبْ pada awalnya berbentuk fi’il mudhori’ yaitu: يَضْرِبُ yang kemudian dijadikan berkondisi jazm menjadi: يَضْرِبْ dengan menambahkan sukun pada akhir kata sebagai ganti dhommah, lalu dibuanglah huruf awal fi’il ini dan diganti dengan huruf alif menjadi: اِضْرِبْ. Demikian pula contoh-contoh fi’il amr yang lain.

  1. Al-Mu’rob yang merupakan cabang atau bentuk lanjut dari fi’il, yaitu: Fi’l Al-Mudhori’ (Kata kerja sekarang/masa depan) dengan syarat tidak diikuti huruf nun al-inats (yang menunjukkan jenis perempuan) dan huruf nun taukid mubasyiroh (yang berfungsi sebagai penguat makna fi’il secara langsung tanpa dipisahkan oleh huruf yang menunjukkan fa’il) pada akhir fi’il tersebut. Jika syarat ini tidak terpenuhi maka fi’il tersebut tergolong mabni.

Contoh: يَقُوْمُ (Dia sedang berdiri).

Sedangkan firman Allah: وَالمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ (Dan perempuan-perempuan yang dicerai hendaklah mereka menunggu…) maka fi’il يَتَرَبَّصْنَ yang diakhiri oleh nun al-inats tersebut tergolong mabni dengan sukun. Begitu pula firman Allah: لَيُنْبَذَنَّ (Dia benar-benar akan dilemparkan) yang merupakan fi’il mudhori’ diakhiri dengan nun taukid mubasyiroh maka fi’il tersebut digolongkan sebagai mabni dengan fathah.

Adapun nun taukid ghair mubasyiroh atau tidak langsung, maka dianggap sebagai mu’rob taqdiran atau mu’rab dengan perkiraan, seperti firman Allah: لَتُبْلَوُنَّ (Sungguh kalian akan diuji), فَإِمَّا تَرَيِنَّ (Maka jika kamu –perempuan- benar-benar melihat) dan وَلاَ تَتَّبِعَانِّ (Dan janganlah kalian berdua sekali-kali mengikuti…) yang ketiga-tiganya diakhiri oleh nun taukid ghair mubasyiroh sebab nun tersebut dipisahkan dari fi’il-nya oleh huruf yang menunjukkan fa’il (pelaku) yaitu huruf wawu, ya’ dan alif yang menunjukkan makna: mereka, kamu perempuan dan kamu berdua, pada ketiga contoh di atas.

Al-Mabni dan Al-Mu’rob pada Harf

Harf semuanya mabni, sebab tidak ada satupun harf yang dapat berubah harakat atau huruf-huruf akhirnya dalam posisi apapun.

Contoh: فِيْ (Di) seperti dalam firman Allah: فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ (Di dalamnya ada petunjuk bagi orang yang bertakwa) atau dalam firman-Nya: اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ (Yang membisikkan (kejahatan) di dalam dada-dada manusia) yang tidak mengalami perubahan baik ada di awal kalimat ataupun di tengah kalimat.

(bersambung)

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 1, 2 Agustus 2010 in 02. Al-Mu'rab dan Al-Mabni

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: